Poster Ibadah Raya GPdI Renewal Jakarta dengan pembicara Ps. Pariama Sembiring

Ps. Pariama Sembiring – Kasih Sebagai Perekat Persatuan

Kolose 3:14

“Di atas semua itu, kenakanlah kasih, yang menjadi pengikat yang sempurna.” AYT: 

Sejak dahulu manusia menyadari bahwa persatuan adalah sebuah kekuatan. Karena itu kita mengenal banyak ungkapan yang menekankan pentingnya hidup bersatu; Bhinneka Tunggal Ika, Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Ilustrasi sapu lidi yang sulit dipatahkan ketika diikat menjadi satu. Semua ungkapan itu mengajarkan persatuan menghasilkan kekuatan.

Namun kenyataannya, persatuan bukanlah sesuatu yang mudah diwujudkan. Suami dan istri bisa bertengkar, Rekan kerja bisa saling menjatuhkan bahka Sesama jemaat bisa berbeda pendapat hingga akhirnya saling menjauh. Jika dalam lingkup keluarga atau gereja saja kita sering gagal menjaga persatuan, apalagi dalam kehidupan berbangsa yang penuh dengan perbedaan suku, budaya, bahasa, dan latar belakang.

Lalu pertanyaannya, apa yang mampu menjaga persatuan di tengah banyaknya perbedaan?

Paulus memberikan jawabannya dalam Kolose 3:14: “Di atas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Bukan kesamaan yang menjadi perekat persatuan, tetapi kasih. Kasih adalah Pengikat yang Sempurna, Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna. Setiap orang memiliki kekurangan.

Ada yang mudah tersinggung.
Ada yang pendiam.
Ada yang keras kepala.
Ada yang kurang percaya diri.
Ada yang terlalu dominan.

Jika setiap orang hanya melihat kekurangan orang lain, maka hubungan apa pun akan mudah retak. Namun Paulus berkata bahwa kasih adalah pengikat yang sempurna. Kata “pengikat” dalam bahasa Yunani adalah syndesmos, yang berarti ikatan, perekat, atau lem. Bayangkan sebuah bangunan yang terdiri dari banyak batu. Batu-batu itu tidak akan menjadi satu tanpa semen atau perekat. Demikian pula hidup kita. Kita berbeda-beda, tetapi kasih Kristus merekatkan kita sehingga menjadi satu tubuh.

Yang indah adalah ini: Kasih tidak menghilangkan perbedaan, tetapi membuat perbedaan menjadi kekuatan. Namun ada hal yang perlu kita renungkan. Sesuatu yang sudah direkatkan, apakah bisa terlepas?

Jawabannya Bisa.

Dan ketika perekat itu rusak, yang terjadi bukan hanya perpisahan. Yang terjadi adalah luka. Hubungan menjadi rusak. Kepercayaan hilang. Apa yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam waktu singkat. Karena itu Paulus tidak berkata, “Milikilah kasih.”

Ia berkata, “Kenakanlah kasih.” Mengapa memakai kata kenakanlah? Karena kasih harus dipakai setiap hari. Sama seperti kita mengenakan pakaian setiap pagi, demikian juga setiap hari kita harus memilih untuk mengenakan kasih. Kasih bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan. Kata “kenakanlah” juga mengingatkan kita kepada Efesus 6:11-17 tentang perlengkapan senjata Allah.

“Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah.” Karena peperangan kita bukan melawan manusia, melainkan melawan kuasa-kuasa kegelapan. Kita mengenakan:

Ikat pinggang kebenaran
Baju zirah keadilan
Kasut Injil damai sejahtera
Perisai iman
Ketopong keselamatan
Pedang Roh, yaitu Firman Allah

Tetapi di atas semuanya itu, kita juga harus mengenakan kasih. Tanpa kasih, semua perlengkapan itu kehilangan maknanya dalam hubungan dengan sesama.

1. Kesatuan dalam Kasih adalah Perlindungan yang Sempurna

Dunia tempat kita hidup bukanlah dunia yang mudah. Ada tekanan, konflik, pencobaan dan ada orang-orang yang ingin memecah belah. Karena itu kita membutuhkan perlindungan. Roma 8:38-39 berkata,

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah.”

Menariknya, Paulus memakai kata “kita”, bukan hanya “saya”. Kasih Allah tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi membangun sebuah umat. Sejak awal Allah berkata, “Tidak baik manusia itu seorang diri.” Allah menciptakan keluarga. Allah membentuk gereja. Allah menghendaki kita hidup dalam persekutuan. Ketika kasih Allah menjadi dasar hubungan kita, maka hubungan itu memiliki perlindungan yang kuat. Itulah sebabnya dalam bimbingan pranikah selalu ditekankan bahwa dasar utama pernikahan adalah kasih. Jika sebuah hubungan dibangun karena kepentingan, maka hubungan itu akan runtuh ketika kepentingan berubah. Tetapi hubungan yang dibangun di atas kasih akan tetap bertahan sekalipun menghadapi badai kehidupan.

2. Kesatuan dalam Kasih adalah Kekuatan yang Hebat

Kasih bukan hanya melindungi. Kasih juga memberi kekuatan. Ketika kasih memenuhi sebuah keluarga, maka pertengkaran tidak mudah berkembang menjadi perpecahan. Ketika kasih memenuhi sebuah gereja, maka perbedaan pendapat tidak berubah menjadi permusuhan. Ketika kasih memenuhi sebuah tim pelayanan, maka setiap orang saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan.

Kasih menutup celah yang dapat dipakai Iblis.

Kasih mematahkan akar kepahitan.

Kasih memulihkan hubungan yang rusak.

Kasih membuka ruang bagi Roh Kudus bekerja di tengah umat Tuhan.

Persatuan bukan berarti semua orang sama.

Persatuan berarti semua orang tetap berbeda, tetapi memiliki kasih yang sama kepada Kristus dan kepada sesama.

Hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa persatuan tidak lahir secara otomatis. Persatuan harus dipelihara. Dan cara memeliharanya adalah dengan mengenakan kasih setiap hari. Kasih bukan hanya sebuah perasaan. Kasih adalah pilihan.

Pilihan untuk mengampuni.
Pilihan untuk mengerti.
Pilihan untuk menerima.
Pilihan untuk tetap mengasihi meskipun berbeda.

Kiranya setiap keluarga, setiap persekutuan, dan gereja kita menjadi komunitas yang dikenal bukan karena keseragaman, tetapi karena kasih Kristus yang menjadi perekat yang sempurna.

Hubungan yang Sehat Bergantung pada Prilaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *