Poster Ibadah Raya GPdI Renewal Jakarta dengan pembicara Ps. Pariama Sembiring

Ps. Pariama Sembiring – Mempercayai Pemeliharaan Tuhan

Memercayai Pemeliharaan Tuhan 

1 Raja-raja 17:9–16

Pernahkah kita berada dalam situasi ketika semua jalan seolah-olah sudah tertutup? Persediaan semakin menipis, pertolongan belum datang, dan harapan perlahan-lahan menghilang. Kita sudah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi keadaan justru semakin sulit. Pada titik tertentu, kita mungkin mulai bertanya, “Tuhan, apakah Engkau masih melihat dan memedulikan keadaan saya?”

Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Ketika tekanan hidup datang bertubi-tubi, kita bisa merasa sendirian, bahkan mulai meragukan pertolongan Tuhan.

Kisah Elia dan seorang janda di Sarfat dalam 1 Raja-raja 17:9–16 mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang penting: ketika manusia merasa tidak memiliki harapan, Tuhan tetap sanggup bekerja dan memelihara kehidupan.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang tepung yang tidak habis dan minyak yang tidak berkurang. Kisah ini memperlihatkan bagaimana Tuhan melihat penderitaan manusia, mengambil inisiatif untuk menolong, dan memakai keadaan yang sulit untuk membawa seseorang semakin mengenal Tuhan.

Untuk memahami besarnya pertolongan Tuhan dalam kisah ini, kita perlu melihat terlebih dahulu keadaan yang sedang dialami oleh janda di Sarfat.

Pertama: Hidup di tengah krisis yang ekstrem. Kekeringan membuat sumber makanan semakin sulit diperoleh. Persediaan yang dimilikinya hampir habis.

Kedua: Memiliki persediaan terakhir. Ketika Elia bertemu dengannya, perempuan itu hanya mempunyai segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Ia bahkan berkata bahwa ia hendak mengolah makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya, lalu mereka akan mati.

Ketiga: Menghadapi kesulitan sebagai seorang janda. Kehilangan suami dapat membuat seseorang menghadapi beban ekonomi dan sosial yang berat, terlebih ketika tidak memiliki sumber pertolongan yang memadai.

Keempat: Memiliki seorang anak yang menjadi tanggung jawabnya. Ia bukan hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan anaknya.

Kelima: Merasa tidak memiliki harapan lagi. Perkataan tentang makan untuk terakhir kalinya sebelum mati menunjukkan betapa suram masa depan yang ia bayangkan.

Jika seluruh keadaan ini digabungkan, kita dapat melihat gambaran seseorang yang berada di ambang keputusasaan total.

Dalam situasi seperti itu, manusia rentan menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, bahkan mempertanyakan kepedulian Tuhan. Kita mungkin berpikir bahwa Tuhan sudah menutup mata terhadap penderitaan kita.

Melalui kisah ini, kita akan belajar dua kebenaran penting tentang pemeliharaan Tuhan.

Pertama: Tuhan Melihat dan sedang Mempersiapkan Pertolongan atas kesulitan kita

“Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

— 1 Raja-raja 17:9

Tuhan menjelaskan kepada Elia dengan detail tempat yang harus ia tuju, ke Sarfat dan ketemu janda.
Apakah ketika Tuhan meminta Elia untuk ketemu janda di sarfat ini untuk menolong Elia, Jawaban saya tidak. Jarak antara Sungai Kerit ke Sarfat 160 KM dan melalui Danau Galilea, tidak ada jejak literature manapun yang menulis bahwa danau Galilea pernah kering. Jika kebutuhan Tuhan untuk menyelamatkan Elia karena sungai Kerit kering maka seharusnya Elia di minta Tuhan ke danau Galilea saja. Jadi jelas disini Tuhan mengutus Elia untuk menolong ibu janda dan bukan ibu Janda yang menolong Elia.

Dari peristiwa ini memperlihatkan kepada kita:

1. Berkat Tuhan Tidak Pernah Salah Tempat

Perhatikan kembali firman Tuhan dalam 1 Raja-raja 17:9. Tuhan memerintahkan Elia untuk pergi ke Sarfat, sebuah kota di wilayah Sidon, dan tinggal di sana.

Menariknya, Tuhan tidak mengarahkan Elia kepada seorang raja, orang kaya, atau seseorang yang memiliki persediaan makanan melimpah. Tuhan justru mengarahkannya kepada seorang janda yang sedang menghadapi kekurangan.

Secara manusiawi, keputusan ini tampak tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang hampir kehabisan makanan menjadi sumber pemeliharaan bagi seorang nabi?

Namun, Tuhan mengetahui sesuatu yang belum diketahui Elia. Tuhan mengetahui tempat yang harus dituju, orang yang akan ditemui, dan bagaimana pemeliharaan-Nya akan dinyatakan.

Dari sini kita belajar bahwa berkat Tuhan tidak selalu datang dari tempat yang kita perkirakan.

Kita mungkin berharap pertolongan datang dari orang yang berpengaruh, memiliki banyak uang, atau mempunyai hubungan dekat dengan kita. Akan tetapi, Tuhan tidak dibatasi oleh perkiraan manusia. Dia dapat memakai orang yang tidak kita kenal, kesempatan yang tidak kita rencanakan, atau jalan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa tidak ada jalan keluar hanya karena kita belum melihat sumber pertolongan.

2. Berkat Tuhan Datang pada Waktu-Nya

Ketika Elia tiba di Sarfat, ia bertemu dengan seorang janda yang sedang mengumpulkan kayu api. Perempuan itu hanya memiliki sedikit tepung dan minyak.

Perhatikan waktunya: Elia datang ketika persediaan perempuan itu hampir habis.

Tuhan tidak hanya mengetahui tempat yang harus dituju Elia, tetapi juga mengetahui keadaan perempuan yang akan ditemuinya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa keterbatasan yang kita lihat tidak membatasi pengetahuan dan kuasa Tuhan. Kita mungkin tidak memahami mengapa pertolongan belum datang, tetapi kita dapat belajar untuk tetap percaya kepada-Nya sambil menjalani setiap langkah dengan setia.

Kita tidak selalu mengetahui kapan dan bagaimana Tuhan akan menjawab pergumulan kita. Namun, kita dapat membawa kekhawatiran kita kepada-Nya dan tetap melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita.

3. Berkat Tuhan Bisa Datang dengan Cara yang Tidak Terduga

Bayangkan situasi yang dialami janda tersebut. Ia sedang mempersiapkan makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya. Tiba-tiba, seorang laki-laki yang tidak dikenalnya datang dan meminta air. Setelah itu, ia meminta sepotong roti.

Permintaan tersebut tentu bukan hal yang ringan bagi seseorang yang hampir tidak memiliki apa-apa.

Secara manusiawi, perempuan itu memiliki alasan untuk menolak. Ia sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit. Namun, melalui perjumpaan yang tidak terduga itu, Tuhan sedang menyatakan pemeliharaan-Nya.

Kita juga dapat mengalami hal serupa. Pertolongan tidak selalu datang melalui orang yang kita harapkan. Kadang-kadang, kesempatan muncul dari pertemuan yang tidak direncanakan, hubungan yang tidak pernah kita bayangkan, atau situasi yang pada awalnya justru terasa merepotkan.

Saya sendiri pernah cukup lama bekerja di bidang marketing. Dalam pengalaman tersebut, saya belajar bahwa pesanan terkadang datang dari orang yang pada awalnya tidak meyakinkan, bahkan dari orang yang terasa menjengkelkan ketika berhadapan dengan kita.

Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa kita tidak selalu dapat menilai sebuah kesempatan hanya berdasarkan kesan pertama.

Tentu saja, tidak setiap orang yang menjengkelkan pasti membawa berkat. Namun, kita perlu berhati-hati agar prasangka tidak membuat kita menutup diri terhadap kesempatan yang mungkin Tuhan izinkan hadir.

Jangan membatasi cara Tuhan bekerja hanya berdasarkan apa yang masuk akal menurut kita.

Ketika kita merasa tidak memiliki jalan, Tuhan tetap dapat membuka jalan yang tidak pernah kita perkirakan.

Kedua Tuhan Menumbuhkan Pengenalan kita akan Tuhan

Kisah janda di Sarfat tidak berhenti pada tepung yang tidak habis dan minyak yang tidak berkurang. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada pemenuhan kebutuhan jasmani: perempuan itu mengalami proses mengenal Allah melalui apa yang terjadi dalam hidupnya.

Dalam 1 Raja-raja 17:24, setelah mengalami peristiwa yang dicatat dalam kisah tersebut, perempuan itu berkata kepada Elia:

“Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”

— 1 Raja-raja 17:24

Perkataan ini menunjukkan perubahan dalam pengenalannya. Ia tidak lagi hanya mendengar perkataan tentang Allah, tetapi mulai menyadari kebenaran firman Tuhan melalui pengalaman yang dialaminya.

Poster Ibadah Raya GPdI Renewal Jakarta dengan pembicara Ps. Pariama Sembiring

Ps. Pariama Sembiring – Takluk dalam Kedaulatan Tuhan

Jangan Takut Mengambil Risiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *