Ps. Pariama Sembiring - Nilai Kerendahan Hati

Ps. Pariama Sembiring – Nilai Kerendahan Hati

Kejadian 24:14–27

Beberapa minggu yang lalu, kita telah mempelajari kisah seorang janda di Sarfat. Ia bukan orang Israel, tetapi Tuhan begitu memperhatikan kehidupannya. Tuhan tidak membiarkan janda tersebut terus berada dalam kesulitan tanpa pertolongan. Ada sesuatu yang menarik perhatian Tuhan dalam diri perempuan ini, yaitu kerendahan hatinya.

Kerendahan hati memiliki tempat yang istimewa di hati Tuhan. Kita melihat bagaimana Tuhan mengutus Nabi Elia untuk berjalan sekitar 160 kilometer menuju Sarfat demi menjumpai seorang janda yang hidup dalam keterbatasan.

Dalam Kejadian 24, kita juga menemukan kisah yang tidak kalah menarik. Eliezer, hamba Abraham, melakukan perjalanan yang sangat jauh dari Hebron menuju Mesopotamia, sekitar 900 kilometer, atau kurang lebih 25 hari perjalanan, untuk mencari seorang perempuan yang akan menjadi istri Ishak. Perempuan itu adalah Ribka.

Melalui kisah ini, kita dapat melihat bagaimana Tuhan bekerja dan menuntun kehidupan orang-orang yang memiliki hati yang benar di hadapan-Nya.

Mari kita belajar dari kehidupan Ribka. Apa yang membuat kerendahan hatinya begitu istimewa?

1). Cepat Tanggap untuk Melayani

Kejadian 24:18

“Jawabnya: ‘Minumlah, tuan,’ maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum.”

Salah satu karakter yang terlihat dari Ribka adalah kesigapannya dalam melayani.

Ketika Eliezer meminta air minum, Ribka tidak berlama-lama memberikan jawaban. Ia segera menurunkan buyungnya dan memberikan air kepada Eliezer.

Sebenarnya, ada begitu banyak pertanyaan yang bisa diajukan Ribka kepada orang asing tersebut. Siapa dia? Dari mana asalnya? Apa tujuannya datang ke tempat itu? Mengapa ia meminta minum kepadanya?

Semua pertanyaan tersebut wajar, apalagi Ribka adalah seorang gadis muda yang belum mengenal Eliezer. Namun, Ribka tidak menjadikan berbagai pertanyaan itu sebagai alasan untuk menunda melakukan kebaikan.

Di sinilah kita belajar tentang kerendahan hati. Orang yang rendah hati tidak selalu sibuk mempertimbangkan berbagai hal untuk dirinya sendiri, tetapi memiliki kepekaan untuk melihat kebutuhan orang lain dan segera bertindak.

Sering kali kita justru melakukan hal yang sebaliknya. Kita terlalu sibuk membuat teori, menganalisis keadaan, memetakan masalah, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar bergerak untuk melakukan sesuatu.

Tentu saja, berpikir dan mempertimbangkan sesuatu itu penting. Namun, jangan sampai terlalu banyak pertimbangan membuat kita kehilangan kesempatan untuk melayani.

Orang yang memiliki hati seorang pelayan tidak hanya melihat kebutuhan, tetapi juga tergerak untuk melakukan sesuatu.

 

2). Melakukan Lebih daripada yang Diharapkan

Kejadian 24:19

“Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: ‘Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.'”

Hal menarik berikutnya dari Ribka adalah ia melakukan lebih daripada yang diminta.

Eliezer hanya meminta air minum untuk dirinya sendiri. Namun, setelah memberikan air kepada Eliezer, Ribka menawarkan diri untuk memberi minum kepada unta-untanya juga.

Perhatikan bahwa dalam Kejadian 24:10 disebutkan bahwa Eliezer membawa sepuluh ekor unta.

Memberi minum kepada sepuluh ekor unta bukanlah pekerjaan yang ringan. Unta dapat membutuhkan air dalam jumlah yang sangat banyak, terlebih setelah menempuh perjalanan jauh.

Untuk menggambarkan besarnya pekerjaan yang dilakukan Ribka, mari kita menggunakan ilustrasi perhitungan sederhana:

  • Jumlah unta: 10 ekor.
  • Perkiraan kebutuhan air setiap unta: 100 liter.
  • Perkiraan kapasitas satu buyung: 10 liter.

Dengan asumsi tersebut, perhitungannya adalah:

Total kebutuhan air:

10 ekor × 100 liter = 1.000 liter.

Jumlah buyung yang harus ditimba:

1.000 liter ÷ 10 liter = 100 buyung.

Artinya, dalam ilustrasi ini, Ribka harus menimba air berkali-kali hingga pekerjaan tersebut selesai.

Bayangkan pekerjaan yang harus dilakukan seorang gadis muda ini:

  • Ribka masih seorang gadis muda (ayat 16).
  • Ia harus berulang kali pergi ke sumur untuk mengambil air.
  • Ia bahkan berlari kembali ke sumur untuk menimba air (ayat 20).
  • Ia tidak berhenti hanya setelah kebutuhan Eliezer terpenuhi, tetapi terus bekerja sampai unta-unta itu puas minum.

Apa yang menggerakkan Ribka melakukan semua itu?

Ia memiliki hati yang mau memberi lebih daripada yang diminta.

Inilah salah satu ciri kerendahan hati. Orang yang rendah hati tidak selalu bertanya, “Apa yang menjadi bagian saya?” atau “Sampai sejauh mana saya harus mengerjakan tugas ini?”

Sebaliknya, ia memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu yang lebih baik bagi orang lain.

Dalam pelayanan, janganlah kita hanya melakukan sesuatu karena diminta atau karena ada yang mengawasi. Milikilah hati yang dengan sukarela memberikan yang terbaik.

Kerendahan hati tidak berhenti pada kesediaan melakukan apa yang diminta, tetapi juga terlihat dari kerelaan melakukan lebih daripada yang diharapkan.

3). Tidak Menganggap Pekerjaan Sederhana sebagai Sesuatu yang Merendahkan Diri

Kejadian 24:20

“Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu.”

Memberi minum kepada sepuluh ekor unta bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu membutuhkan tenaga, waktu, dan kesediaan untuk terus bekerja.

Selain itu, pekerjaan tersebut bukanlah sesuatu yang terlihat istimewa atau populer. Ribka harus melakukan pekerjaan sederhana yang mungkin tidak mendapatkan perhatian orang lain.

Namun, Ribka tidak merasa bahwa pekerjaan tersebut terlalu rendah untuk dilakukan.

Ia tidak memilih-milih pekerjaan. Ia tidak berpikir bahwa dirinya terlalu berharga untuk melakukan pekerjaan sederhana.

Di sinilah kita perlu belajar.

Dalam kehidupan bergereja, terkadang ada orang yang hanya ingin terlibat dalam pelayanan yang terlihat oleh banyak orang. Ingin melayani di atas altar, tetapi tidak mau membersihkan toilet. Mau tampil di depan, tetapi tidak mau menyapu dan mengepel. Mau mendapatkan posisi, tetapi tidak bersedia melakukan pekerjaan sederhana.

Padahal, nilai sebuah pelayanan tidak ditentukan oleh seberapa terlihat pekerjaan itu di hadapan manusia, melainkan oleh hati yang melakukannya di hadapan Tuhan.

Kita melihat pola yang sama dalam kehidupan beberapa tokoh Alkitab. Tuhan membentuk mereka melalui pekerjaan-pekerjaan yang tampaknya sederhana:

  • Daud dibentuk ketika menggembalakan domba sebelum akhirnya diangkat menjadi raja Israel.
  • Yusuf menjalani tanggung jawab mengurus rumah Potifar sebelum Tuhan membawanya kepada tanggung jawab yang lebih besar di Mesir.
  • Musa menggembalakan kambing domba milik mertuanya di Midian sebelum Tuhan memanggilnya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Mereka tidak memulai perjalanan hidupnya dari panggung kehormatan. Ada proses, tanggung jawab, dan pekerjaan sederhana yang membentuk karakter mereka.

Jangan pernah meremehkan pekerjaan kecil. Jangan merasa terlalu hebat untuk melakukan sesuatu yang sederhana.

Bisa jadi, justru melalui pekerjaan yang tidak diperhatikan orang lain, Tuhan sedang membentuk karakter dan mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar.

Jangan mencari kehormatan melalui sebuah posisi. Bangunlah karakter yang membuat kita layak dipercaya dalam setiap tanggung jawab.

 

Dosa Tumbuh dari Benih Keegoisan

GPdI Renewal

Mengatur Ulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *