Dua kata ini cukup lama menempel di kepala saya “menyongsong badai”, karena cukup menarik untuk di pelajari. Badai adalah gangguan cuaca yang ditandai dengan angin kencang, hujan lebat, banjir, petir, dan perubahan tekanan udara yang menyebabkan kerusakan lingkungan.
Dari pengertian ini ternyata Alkitab menjelaskan kepada kita tentang situasi ini,
Matius 7:24-27
24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
26 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Tentu badai disini bukanlah berbicara tentang secara harapiah, tetapi metafora atau kiasan untuk menggambarkan situasi sulit, tantangan, atau ujian yang harus dihadapi seseorang. Berupa masalah pribadi, penderitaan, tekanan, atau cobaan yang berat.
35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”
36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”
Yang minta bertolak adalah Tuhan Yesus, Badai bahkan datang ketika kita dalam posisi taat dan patuh kepada Tuhan, bahkan di jelaskan dengan tegas bahwa Yesus ada Bersama mereka.
Sudah taat dan melibatkan Tuhan dalam hidup, badai tetap terjadi.
Artinya lari dari masalah bukan solusi, ketika ada masalah keluarga lalu anda berpikir ya udah saya ganti keluarga saja, pindah keluarga pun tetap disana badai akan datang. Orang yang lari dari masalah akan menghabiskan seluruh hidupnya hanya kabur-kaburan tanpa meniggalkan legacy apa-apa.
MENGAPA KITA MENYONGSONG BADAI:
1. Badai akan menyadarkan kita ada Tuhan beserta kita.
Markus 4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
Merujuk kepada peristiwa Yunus (Yunus 1:5) Jaman dahulu katika terjadi badai langkah pertama yang di lakukan adalah membuang muatan kapal.
Ini yang sering terjadi dalam hidup ketika datang badai dalam hidup, kita berusaha mengatasinya dengan kekuatan kita, harta kita dan kepintaran kita. Ketika semuanya telah gagal mengatasi badai tersebuat baru kita ingat oh ada Yesus.
Saya mencari Tahu berapa lama perahu ini sudah terombang ambing karena badai? Saya dapat kata kuncinya yaitu perahu itu penuh penuh air dan Yesus tidur di buritan,
Perahu yang di pakai murid dan Yesus ini adalah perahu dalam ukuran besar, darimana kita tahu? Karena hanya perahu besar yang memiliki buritan. Untuk ukuran perahu besar membutuhkan berjam-jam bahkan berhari-hari untuk air penuh ke dalam.
Saya menafsirkan mungkin bisa saja karena sudah tidak ada lagi yang mau di buang baru teringat ada Yesus Bersama mereka.
Hal pertama yang harus kita lakukan ketika badai datang dalam berbagai bentuk dalam hidup kita adalah ingat ada Tuhan Yesus Bersama kita.
2. Badai melatih kita tidak takut dan tetap percaya.
Markus 4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?“
Tidak takut dan tetap percaya ternyata perlu di latih, jika mereka mengalami situasi ini sudah berkali-kali, maka mereka tidak takut lagi dan percaya Tuhan pasti akan menolong.
1 Samuel 17:34-37
34 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,
35 maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
36 Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”
37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”
Mengapa Daud meyakini bahwa ia dapat mengalahkan Goliat, ayat di atas menjelaskan bahwa Ternyata Daud sudah terbiasa menghadapi situasi dimana ia berhadapan dengan singa dan beruang dan Daud mengalahkannya.
Dulu sewaktu mulai ibadah, setiap mau jatuh tempo pembayaran saya pusing minta ampun, stress, bayangin saya dulu kerja sebagai sales dengan gaji 2,5 juta dan harus bayar sewa tempat ibadah 50 juta. Sekarang tetap masih memikirkan tetapi tingkat stres nya sudah jauh berkurang. karena hal ini sudah saya jalani 10 tahun, dalam iman saya berkata jika Tuhan sudah menolong 10 tahun ini, masa di tahun ini Tuhan tidak tolong.
3. Badai akan menyatakan mujizat dan kebesaran Tuhan.
Markus 4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”
Mujizat terjadi sering kali di dahului oleh badai dalam kehidupan kita, mujizat tidak perlu terjadi jika semua kedaan baik-baik saja. Mujizat dalam badai ini membuat kesaksian dimana orang-orang menyadari Yesus adalah Tuhan yang menolong dalam badai hidup kita.
