Mazmur 46:10
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
Ayat ini berbicara dengan sangat kuat tentang kedaulatan Allah. Kata Elohim dalam bagian ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berkuasa, berotoritas, dan berdaulat atas segala sesuatu.
Namun, menarik untuk diperhatikan bahwa pernyataan, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”, muncul dalam konteks situasi yang sangat ekstrem.
Perhatikan ayat sebelumnya:
Mazmur 46:2-3
“Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.”
Gambaran yang diberikan pemazmur tentang dunia yang sedang bergoncang. Bumi berubah, gunung-gunung berguncang, air laut bergelora. Namun di tengah semua itu, umat Tuhan berkata:
“Kita tidak akan takut.”
Mengapa?
Karena ada satu kebenaran yang harus kita pegang: Allah tetap berdaulat.
Memahami kedaulatan Tuhan menolong kita menghadapi dua keadaan yang sangat berbeda dalam kehidupan.
Yang pertama: Ketika kita sedang berjaya
Ketika hidup kita sedang baik, usaha berhasil, pelayanan berkembang, karier meningkat, keuangan diberkati, atau kita memperoleh berbagai pencapaian, kita tidak menjadi sombong.
Mengapa?
Karena kita sadar bahwa segala sesuatu berada di bawah kedaulatan Tuhan.
Apa yang kita miliki bukanlah alasan untuk meninggikan diri. Kita hanyalah penerima dan pengelola dari apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Yang kedua: Ketika kita sedang mengalami kesulitan
Sebaliknya, ketika kita berada dalam tekanan, mengalami kegagalan, menghadapi ketidakpastian, atau tidak mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan, kita tetap dapat berdiri kuat.
Mengapa?
Karena kita percaya bahwa pada akhirnya segala sesuatu tetap berada dalam kendali Tuhan.
Hal ini bukan berarti kita menjadi pasif, malas, atau berhenti berusaha.
“Diamlah” bukan berarti tidak melakukan apa-apa.
Diam berarti berhenti mengandalkan kekuatan sendiri sebagai sumber utama keselamatan kita. Diam berarti menyadari keterbatasan kita dan takluk kepada kedaulatan Tuhan.
Kita tetap bekerja. Kita tetap berusaha. Kita tetap mengambil keputusan. Kita tetap berdoa. Namun kita melakukannya dengan kesadaran bahwa Tuhanlah yang memegang kendali tertinggi atas hidup kita.
Ini yang Sering Kali terjadi
Tanpa kita sadari, sering kali kita menjalani hidup seolah-olah sedang berusaha untuk tidak tunduk kepada kedaulatan Tuhan.
Tentu tidak banyak orang yang secara terang-terangan berkata, “Saya menolak Tuhan.”
Tetapi melalui sikap, keputusan, dan cara mereka menghadapi keadaan, seseorang sebenarnya dapat sedang berkata: “Tuhan, saya percaya kepada-Mu, tetapi untuk bagian ini saya mau mengaturnya sendiri.”
Saul adalah contoh yang tepat untuk menjelaskan ini;
1 Samuel 13; Ketika Samuel belum datang, Saul menghadapi tekanan. Bangsa Israel mulai tercerai-berai dan orang Filistin telah berkumpul untuk berperang.
Saul tidak sabar menunggu Samuel. Ia kemudian mengambil keputusan sendiri dan mempersembahkan korban.
Tekanan membuat Saul mengambil alih kendali yang seharusnya tetap berada dalam ketaatan kepada Tuhan.
Berapa banyak kita melakukan hal yang sama seperti Saul, mungkin ketika doa kita belum di jawab, keinginan kita belum tercapai, lalu kita membuat keputusan sendiri.
Karena itu, belajar takluk kepada kedaulatan Tuhan bukan hanya berbicara tentang apa yang kita lakukan ketika keadaan baik, tetapi terutama tentang bagaimana kita merespons ketika keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Takluk dalam Kedaulatan Tuhan Membuat Kita:
Pertema: Tetap Percaya Sekalipun Tidak Mengerti
Amsal 3:5
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”
Salah satu pergumulan terbesar manusia adalah mempercayai sesuatu yang belum dapat dilihat atau dimengerti.
Manusia cenderung berkata: “Saya akan percaya kalau saya sudah melihat.”
Namun iman justru mengajarkan kita untuk tetap percaya kepada Tuhan sekalipun kita belum melihat seluruh jawabannya.
Yesus berkata kepada Tomas:
Yohanes 20:29
“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Takluk kepada kedaulatan Tuhan berarti kita tidak menjadikan pengertian kita sebagai ukuran terakhir dari apa yang Tuhan sedang kerjakan.
Bangsa Israel
Salah satu kegagalan bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun adalah ketidakpercayaan mereka terhadap janji Tuhan.
Tuhan telah menjanjikan kepada mereka tanah Kanaan, tetapi ketika mereka melihat tantangan yang ada di depan mereka, mereka lebih mempercayai apa yang mereka lihat daripada mempercayai apa yang Tuhan telah katakan.
Ketika kita tidak memahami kedaulatan Tuhan, kita akan sulit percaya kepada janji-Nya sebelum melihat hasilnya.
Akibatnya, ketika perjalanan menjadi berat, kita mudah berkata:
“Saya capek.”
“Saya lelah.”
“Lebih baik mundur.”
“Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?”
Berbeda dengan Abraham.
Abraham belajar berjalan bersama Tuhan sekalipun ia belum melihat seluruh penggenapan janji Tuhan. Ia berjalan selangkah demi selangkah, dengan percaya bahwa Tuhan yang memanggilnya adalah Tuhan yang berkuasa menggenapi janji-Nya.
Iman tidak selalu berarti kita mengerti seluruh jalan yang Tuhan tunjukkan. Iman berarti kita percaya kepada Pribadi yang memegang jalan tersebut.
Kedua: Membuat Kita Tetap Tenang di Tengah Badai
Markus 4:39-40
“Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ‘Diam! Tenanglah!’ Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”
“Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’”
Perhatikan ketika murid-murid sudah melayani Tuhan dengan sekuat tenaga dan membawa Yesus bersama mereka dalam perahu
Badai datang.
Angin bertiup.
Air masuk ke dalam perahu.
Murid-murid ketakutan.
Tetapi Yesus ada di dalam perahu.
Persoalannya bukan hanya seberapa besar badai yang kita hadapi, tetapi siapa yang kita percaya ketika badai itu datang.
Sampai hari ini saya sulit memahami peristiwa ini, ketika mereka di tengah danau lalu taupan mengamuk dengan sangat dasyat, tentu perahu mereka hampir tergelam.
Dalam situasi yang sangat ektrim ini Yesus tertidur.
Orang yang memahami kedaulatan Tuhan tidak berarti tidak pernah takut. Ia bisa saja merasakan ketakutan, tetapi ketakutan tidak menjadi pengendali hidupnya.
Yesus berkata berkata: ‘Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?’”
Kita hidup di negara yang memiliki potensi bencana alam, termasuk gempa bumi dan tsunami. Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai Zona Megathrust Selat Sunda kembali banyak diperbincangkan. BMKG menjelaskan bahwa zona tersebut memang memiliki potensi gempa besar berdasarkan kajian para ahli, tetapi potensi bukanlah prediksi. Tidak ada teknologi yang saat ini dapat menentukan secara tepat kapan, di mana, dan dengan kekuatan berapa sebuah gempa akan terjadi. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan mengikuti informasi resmi serta melakukan langkah-langkah mitigasi.
Hal ini memberikan sebuah pelajaran rohani yang penting bagi kita.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Kita tidak tahu apakah kita akan menghadapi badai kehidupan, masalah ekonomi, penyakit, kehilangan, kegagalan, atau bahkan bencana alam.
Tetapi kita tahu siapa yang memegang kehidupan kita.
Karena itu, sebagai orang percaya, kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan terhadap sesuatu yang belum terjadi. Kita dipanggil untuk berjaga-jaga, melakukan bagian kita, tetapi tetap percaya kepada Tuhan yang berdaulat.
Ketiga: Membuat Kita Tidak Reaktif dalam Tekanan
Salah satu ujian terbesar dari iman bukanlah ketika semuanya berjalan dengan baik, tetapi ketika kita berada di bawah tekanan.
Perhatikan kehidupan Saul.
1 Samuel 13:10-14
“Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.”
Tetapi Samuel berkata:
“Apa yang telah kauperbuat?”
Saul menjawab bahwa rakyat mulai berserak, Samuel belum datang pada waktu yang ditentukan, dan orang Filistin sudah berkumpul. Karena itu ia merasa harus mempersembahkan korban sendiri.
Samuel kemudian menegur Saul karena tidak mengikuti perintah Tuhan.
Apa yang terjadi pada Saul?
Tekanan → Takut → Panik → Bertindak sendiri → Tidak Taat
Saul tidak mampu menunggu dalam tekanan.
Tekanan membuatnya merasa harus segera melakukan sesuatu. Ia mengambil alih kendali dan melakukan apa yang sebenarnya bukan menjadi bagiannya.
Orang yang takluk kepada Tuhan:
Tekanan → Berdoa → Percaya → Menunggu → Taat
Perbedaannya bukan pada ada atau tidak adanya tekanan. Perbedaannya adalah siapa yang memegang kendali ketika tekanan datang?
